KISAH YUSUF
“Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,”
Matius 1:24
Namaku Yusuf. Aku laki-laki biasa. Orang mengenalku sebagai Bapak biologis dari Tuhan Yesus. Aku akan mengisahkan pengalamanku saat memelihara Tuhan Yesus. Inilah kisahku: Waktu itu aku bertunangan dengan Maria kekasihku yang menjadi ibu Tuhan Yesus. Suatu hari aku mendengar bahwa Maria mengandung. Rasanya siang itu seperti halilintar ditelingaku. Hatiku kacau, bingung, marah kecewa, tapi juga kuatir kehilangan Maria kekasihku. Selama beberapa hari aku tidak bisa tidur, aku sangat gelisah. Bagaimana mungkin. aku ini seorang laki-laki, harga diriku dihina sama sekali. Aku bisa juga dianggap pengecut, aku malu, tetapi aku mengasihi Maria. Aku bimbang, ragu dan bingung. Kemudian aku berdoa dan berpuasa. Aku mengambil keputusan akan menceraikan Maria dengan diam-diam agar orang yang aku kasihi itu tidak dipermalukan. Sampai suatu malam, aku merasakan seperti mimpi, entah itu mimpi atau sungguhan aku bingung. Sebab tidurkupun tidak nyenyak. Seorang Malaikat menemuiku. Ia berbicara, bahwa agar tidak ragu mengambil Maria sebagai istriku, sebab bayi yang ada dalam kandungan itu dari Roh Kudus. Hal itu sesuai dengan nubuatan Kitab Suci. Saat itu hatiku dipenuhi damai sejahtera. Kegelisahanku sirna, meski itu hanya seperti mimpi dan aku tidak tahu apa Roh Kudus, tetapi aku percaya itu adalah benar, sebab ia berbicara berdasarkan Kitab Suci.
Setelah bangun dari tidur, aku mengambil keputusan untuk melakukan seperti yang sampaikan oleh Malaikat itu. Aku datangi Mara kekasihku. Aku menghiburnya dan senantiasa mendampinginya. Sampai akhirnya Tuhan Yesus lahir. Aku merasa sangat bangga, bersukacita an bahagia, karena aku bisa turut melayani dalam merawat Tuhan Yesus, baik saat di dalam kandungan, masa bayi bahkan sampai ia remaja. Aku sangat mengasihi anak itu. Setip hari aku bekerja keras untuk mencukupkan kebutuhan anak itu. Hingga akhirnya Tuhan memanggilku, sebelum aku melihat ia menjadi dewasa. Namun inilah apa yang dapat kuberikan untuk Tuhan Yesus. Amin.