RENUNGAN : Perjalanan Hidup

PERJALANAN HIDUP
“Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. (Kejadian 12:1-2).
Perjalanan adalah merupakan suatu pengalaman yang melelahkan. Dalam sebuah perjalanan kita harus meninggalkan sesuatu dan menuju suatu yang baru. Abraham dijadikan Bapa orang percaya. sebab keberaniannya mengadakan suatu perjalanan panjang yang belum pasti. Hanya imannya yang membawanya meninggalkan segala sesuatu untuk mencapai suatu tempat yang ada dalam perjanjian. Korban letusan gunung berapi akhirnya mencapai ratusan orang. Meski dalam letusan pertama diketahui hanya 12 orang meninggal. Namun rupanya tidak bisa dicegah dan korban terus bertambah hingga ratusan. Peristiwa ini terjadi karena sikap para pengungsi yang mengeraskan hati untuk dievakuasi. Mereka terlalu cinta pada rumah, harta benda dan ternak mereka dari pada nyawa mereka, sehingga banyak korban karena cinta hal-hal dunia yang sifatnya sementara. Ketika Tuhan Allah berfirman kepada Abraham, Tuhan Allah menjelaskan dengan teliti bahwa Abtaham harus meninggalkan negerinya, sanak-saudaranya dan rumah Bapanya. Karena Tuhan Allah tahu bahwa Abraham sangat mencintai negerinya, sanak saudaranya bahkan rumah bapanya.Tetapi Tuhan Allah menantang Abraham untuk meninggalkan hal-hal yang ia cintai itu. Allah menjanjikan untuk memberkati, menjadi bangsa yang besar, bahkan menjadi berkat. Kehidupan saya dan saudara ini juga merupakan suatu perjalanan menuju negeri yang dijanjikan Tuhan Allah. Dalam perjalanan ini kita ditantang oleh Tuhan Allah untuk meninggalkan hal-hal yang kita cintai yang bersifat duniawi. Ketika kita berani meninggalkan hidup lama kita maka janji Allah dalam Alkitab itu semua terjadi, tetapi jika kita berat meninggalkannya, maka janji Allah dalam kehidupan kita tidak pernah terjadi. Marilah kita meneladani Bapa kita Abraham, yang berani meninggalkan hal-hal yang mengikat dalam hidup lama untuk memperoleh kehidupan baru. Jangan sampai seperti para pengungsi merapi yang berat meninggalkan kampung halamannya, akhirnya harus kehilangan nyawanya yang jauh lebih berharga. Amin. Tuhan memberkati. (HambaNya Pdt. Agus W).

Tinggalkan komentar