MENDENGAR SUARA TUHAN
“Sebab perintah ini, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh. Tidak di langit tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan naik ke langit untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya? Juga tidak di seberang laut tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan menyeberang ke seberang laut untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya? Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan. Ulangan 30:11-14
Dulu saya bertanya-tanya tentang bagaimana mendengar suara Tuhan. Saya bertanya-tanya kepada teman, bahkan yang saya anggap rohaniawan dan senior, bagaimana mndengar suara Tuhan. Juga banyak buku saya baca bagaimana mendengar suara Tuhan. Namun belum memahami tentang bagaimana mendengar suara Tuhan. Setiap saya melihat ada orang yang dapat mendengar suara Tuhan, saya menganggapnya itu sebagai suatu yang luar biasa. Dengan logika, susah untuk mengerti bagaimana mendengar suara Tuhan.
Ada beberapa hal yang perlu untuk dapat mendengar suara Tuhan. Yang pertama adalah bahwa kita harus beriman bahwa kita dapat mendengar suara Tuhan. Yang kedua, adalah bahwa proses mendengar suara Tuhan berbeda dengan proses menggunakan daun telinga. Yang ketiga adalah bahwa mendengar suara Tuhan tidak menggunakan pikiran atau logika. Menurut nabi besar Musa, dalam kitab ulangan, bahwa suara Tuhan itu tidak sukar, sehingga kita susah untuk mendengarkan. Suara Tuhan juga tidak jauh, sehingga terdengar tidak jelas. Suara Tuhan tidak di langit, sehingga mustahil kita mendapatkan. Bahkan menurut kitab ulangan itu juga bahwa suara Tuhan tidak di seberang laut. Tetapi suara Tuhan itu ada dalam mulut dan hati kita. Ada dalam hati, artinya dekat sekali dan jelas karena menyatu dengan kita.
Setiap orang laki-laki atau perempuan, besar atau kecil secara terus menerus akan senantiasa mendengar suara di dalam hati kita. Di situlah Tuhan turut berbicara disamping suara hati kita sendiri dan suara setan yang terus menerus membujuk kita untuk berbuat jahat. Disinilah kita dapat menyaring suara Tuhan, yaitu jika suara itu sesuai dengan Firman Tuhan dan dorongan-dorongan untuk melakukan kebenaran. Marilah kita senantiasa mendengarkan suara Tuhan dalam hati kita. Amin. Tuhan memberkati. (Pdt Agus W ).