RENUNGAN : Menjelang Natal di Betlehem

MENJELANG NATAL DI BETLEHEM
“ dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.” Lukas 2:7
Senja itu Yusuf berjalan terseok-seok. Perjalanan jauh telah ditempuh tanpa istirahat. Kelelahan Nampak jelas di wajah Yusuf yang kusut. Haus dan lapar jelas tidak dirasakan lagi. Keledai kecil itupun makin berat jalannya. Maria masih duduk diatasnya . Sesekali terdengar rintihan karena menahan perutnya yang kian sakit. Yusuf sudah berusaha memasuki setiap penginapan. Namun tak satupun ada kamar kosong. Pendaftaran penduduk ini telah membuat semua penginapan penuh. Mungkin memang semua kamar telah terisi. Tetapi mungkin juga mereka tidak mau direpotkan saat melihat Maria akan melahirkan. Kini, batas desa telah terlewati, tinggal padang belantara. Matahari sudah mulai perlahan-lahan tenggelam. Hanya suara angin yang lembut terdengar. Yusuf kian gelisah, mau menginap dimana ini. Sedang Maria kian kesakitan. Kasihan rasanya. Tetapi habis bagaimana, pendaftaran itu harus dilakukan, sedang perkiraan kelahiran juga belum tahu pastinya.
“Maria” kata Yusuf lembut. “Kita istirahat dikandang ini saja, karena hari telah gelap.” Kemudian dibopongnya Maria turun dari keledai. Dibawanya masuk kekandang mungil itu. Diambilnya beberapa jerami untuk alas tidur, dan dibersihkannya kandang itu. Akhirnya Mariapun melahirkan disitu. Bagi Yusuf hal itu tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Seorang yang sangat dicintai harus melahirkan dikandang domba yang kotor, bahu dan menjijikkan.
Demikianlah Yesus Kristus lahir, tidak diistaa raja yang mewah, tetapi lahir dikandang domba yang kotor, bahu dan menjijikkan. Namun demikianlah sesungguhnya hati manusia. Penuh dosa seperti kandang domba yang kotor, bahu dan menjijikkan. Namun Yesus rela lahir didalam hati yang kotor untuk mengubahnya menjadi istana dan tahta Tuhan Yesus. Marilah natal tahun ini kita intropeksi, apakah hati kita sudah layak untuk menjadi istana dan tahta Tuhan Yesus, ataukah masih seperti kandang domba. Amin. Tuhan memberkati.