RENUNGAN : Hari Kelahiran

“Biarlah hilang lenyap hari kelahiranku dan malam yang mengatakan: Seorang anak laki-laki telah ada dalam kandungan.”  Ayub 3:3.

Ayub mengutuki hari kelahirannya. Seakan ia menyesal dilahirkan kedunia. Hal ini muncul karena begitu berat penderitaanya. Anak-anaknya laki-laki meninggal dunia semua. Seluruh hartanya habis musnah. Istri dan teman-temannyapun mengutukinya. Bahkan tubuhnya penuh dengan sakit penyakit yang menjijikkan. Mungkin beratnya penderitaan kita, belum pernah menderita sebanding seperti yang dialami oleh Ayub. Mungkin pada waktu itu, oleh karena begitu berat penderitaan yang dialami Ayub, ia tidak menyadari bahwa semua itu harus terjadi, oleh karena ia terpilih untuk menjadi salah satu tokoh teladan sepanjang masa. Bahkan mungkin juga ia tidak menyadari bahwa Allah sanggup memulihkan berlipat ganda, dibanding dengan penderitaan yang dialami Ayub. Memang kemuliaan yang diterima Ayub tidak sebanding dengan penderitaan yang dialami, meskipun penderitaan jauh lebih berat dari pada yang dialami oleh banyak orang pada umumnya. Kadang kita merasa begitu menderita, meskipun penderitaan kita tidak sebanding dengan yang dialami Ayub. Namun inilah yang sering kita rasakan bahwa seakan kita sudah tidak sanggup menanggung penderitaan yang kita alami. Meskipun belum sampai menyesali hari kelahiran seperti yang dialami oleh Ayub.  Saat penderitaan begitu berat, mungkin kita tidak menyadari bahwa kemuliaan yang diberikan kita jauh lebih tinggi, dari pada penderitaan yang kita alami. Oleh karena Allah tidak membuat anak-anaknya menderita, kecuali untuk tujuan yang jauh lebih mulia. Marilah saat-saat kita menderita, janganlah menyesali atau bersungut-sungut, namun pandanglah kedepan, bahwa Allah menjanjikan sebuah kemuliaan yang jauh lebih besar dari pada setiap penderitaan yang kita alami. Amin. Tuhan memberkati. (Hambanya Pdt Agus W).

Tinggalkan komentar