PUISI : Pergumulan Abraham

PERGUMULAN ABRAHAM

(Kejadian 22).

Pagi yang cerah. Mentari bersinar terang. Langit nampak kebiru-biruan. Awan setapak tangan mengiring langkahku. Meski terasa berat namun aku harus melangkah. Tak seorangpun tahu arah kakiku. Semua tersimpan dalam hatiku rapat-rapat. Sesekali ku lihat anakku. Tak tergores sedikitpun, bahwa ini hari terakhir bagi dia, untuk dapat menikmati keindahan dunia. Memang berat bagiku. Sebab ia satu-satunya anakku. Seratus tahun aku menanti. Kini aku harus merelakannya. Meski demikian, janji Tuhanku terus terngiang-ngiang di telingaku. Bahwa aku akan menjadi bangsa yang besar. Aku percaya, sebab sama seperti Dia yang mampu memberi keturunan dalam masa tuaku. Dia juga yang akan menggenapi janjinya. Bujangku ku tinggal sendirian di jalan. Karena aku tidak ingin seorangpun tahu akan pergumulanku yang berat ini.

Kini saat yang paling berat tiba bagiku. Nafasku tersengal-sengal, dadaku terasa sesak, kakiku terasa lemas, keringat dingin membasahi tubuhku, tanganku gemetar, Dengan mata terpejam kuangkat pisau itu tinggi-tinggi dalam genggamanku. Sebelum hitunganku sampai ke tiga, kudengar suara “Abraham”. Aku terkejut, pisauku jatuh ditanah.  Aku tersungkur dan bersujud. Sayup-sayup kudengar suara domba dibelakangku. Pelan-pelan aku bangkit, kulepas  ikatan anakku. Kuambil domba itu sebagai ganti korban bakaran anakku.

Tuhan terima kasih sebab digunung ini Engkau telah menyediakan korban bakaran. Terima kasih sebab Engkau berkenan menguji imanku. Kini aku siap menjadi Bapak orang percaya bagi umat manusia. Amin.

Tinggalkan komentar