RENUNGAN : Bangga Atas Kelemahan

BANGGA ATAS KELEMAHAN
Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. II Korintus 12:9
Kelemahan adalah bagian hidup kita. Setiap hari kita diperhadapkan terhadap berbagai-bagai masalah oleh karena kelemahan kita. Allah menciptakan kita penuh dengan keterbatasan-keterbatasan. Tangan kita hanya dua. Kaki kita hanya dua. Penglihatan kita hanya sejauh mata memandang. Demikian juga pendengaran kita sangat terbatas. Sejak bangun tidur kepala kita terasa berat. Maunya tidur lagi. Inginnya kiat kerja terus, tapi setelah tujuh jam kita menjadi lelah. Inginnya tidak makan, tetapi setelah lima jam kita menjadi lapar. Bahkan sakit penyakit tak henti-hentinya menyerang kita. Yang sakit kepala, yang sakit perut, yang sakit gigi dsb. Inginnya terbang tinggi seperti burung rajawali, tetapi tidak bisa. Inginnya lari cepat secepat kilat, tapi tidak mampu.
Rasul Paulus, adalah Rasul yang paling berkharisma. Namun demikian hebatnya rasul Paulus. Ia mempunyai kelemahan, hingga tiga kali berseru kepada Tuhan. Agar Tuhan mengambil kelemahan itu. Tetapi jawab Tuhan. Justru di dalam kelemahanlah kuasa Allah menjadi sempurna di dalam kita. Hingga akhirnya Rasul Paulus bangga dengan kelemahan-kelemahan yang ia miliki, dan bukan bangga dengan kekuatan-kekuatannya.
Allah sejak menciptakan dunia ini penuh kelemahan-kelemahan. Manusia sejak pertamapun diciptakan penuh kelemahan-kelemahan. Kehidupan manusia ditandai dengan kelemahan. Kelahirannya ditandai dengan keadaan dimana ia tidak bisa mengatur dirinya sendiri. Demikian juga kematiannya ia tidak bisa menguburkan dirinya sendiri. Semuanya itu diijinkan oleh Allah, agar kita tidak membanggakan diri. Agar kita tidak mengandalkan kekuatan sendiri. Melainkan bersandar kepada Tuhan. Sebab semakin kita menyadari begitu banyaknya kelemahan di dalam diri kita, semakin kita akan bersandar kepada Tuhan.
Marilah kita meneladani Rasul Paulus. Kita bangga atas kelemahan-kelemahan kita. Sebab pada saat kita lemah, kita kuat sebab kita bersandar kepada Tuhan. Tidak perlu menyesali kelemahan-kelemahan kita. Semua itu adalah anugrah Allah bagi kita. Amin. Tuhan memberkati.

Tinggalkan komentar