“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4:15
Saat pencobaan menekan. Hati kita terasa ada beban. Saat pencobaan menindih. Hati kita terasa perih. Pedih seakan disembelih. Terasa sunyi, sendiri tak ada yang menemani. Mau cerita kepada siapa? Mau mengadu, tak ada yang tahu. Mau berteriak semua pada muak. Mau diam hati tak tahan. Oleh pencobaan kita sering frustasi, melarikan diri, cari kompensasi bahkan banyak yang bunuh diri.
Saat pencobaan datang, kita merasa lemah dan tak berdaya. Firman Allah menjelaskan bahwa kita punya Seorang. Seorang yang kita punya bukanlah Seorang yang tidak dapat merasakan kelemahan-kelemahan kita. Seorang yang kita punya adalah, Seorang yang dapat merasakan kelemahan-kelemahan kita. Apakah kelemahan-kelemahan itu? Pengkhianatan. Sakit memang saat kita dikhianati orang yang kita percayai. Tetapi Yesus adalah Seorang yang pernah merasakan dikhianati. Penghinaan? Hati kita hancur saat dihina. Namun Yesus adalah Imam besar yang pernah dihina dan diludahi di depan umum oleh banyak orang. Dipersalahkan padahal tidak salah. Rasanya tidak enak jika kita dipersalahkan padahal tidak salah. Tetapi Yesus adalah pribadi yang pernah merasakan dipersalahkan, hingga dihukum salip, padahal Ia tidak salah. Dalam keadaan sedemikian berat, hati kita harus menanggung berbagai-bagai pencobaan. Yesus pernah merasakannya. Namun Ia tidak berbuat dosa.
Pencobaan apa yang sedang kita tanggung saat ini? Sudah keringkan air mata kita? Masih kuat bernafaskah kita menanggung segala pencobaan itu? Yesus pernah mengalaminya. Ia tahu bagaimana sakitnya. Ia tahu bagaimana beratnya. Bahkan Ia tahu bagaimana cara menanggungnya. Mari kita jadikan Tuhan Yesus sebagai pribadi yang paling mengerti akan setiap kelemahan-kelemahan kita. Karena Ia pernah merasakannya. Amin. Tuhan memberkati.
