“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” Amsal 41:10
Pernahkah kita merasa takut? Tidak ada seorangpun di dunia yang tidak merasa takut. Saat seseorang lahir ke dalam dunia. Ia sudah menangis sebagai ekspresi ketakutannya. Perasaan takut bukan sesuatu yang aneh dalam kehidupan kita. Rasa takut adalah sesuatu yang wajar dan normal. Dalam perjalanan hidup kita, ketakutan sering menghantui kita. Rasa takut itu memang diberikan Allah kita sebagai salah satu sifat manusia. Ketakutan juga diijinkan oleh Tuhan. Ketakutan diberikan Allah kepada kita dengan tujuan sebagai radar dalam jiwa kita. Ketakutan sebagai suatu sinyal dalam diri kita. Ia akan bekerja memberi tahu akan adanya ancaman. Dengan demikian kita sadar bahwa ada sesuatu dalam diri kita. Rasa takut diberikan Allah kepada kita bukan sebagai momok dalam diri kita. Tetapi itu adalah merupakan bagian dari kehidupan iman. Sama seperti rasa lapar di dalam perut kita. Itu adalah bagian dari kehidupan tubuh kita. Saat kita merasa lapar, kita akan makan, dan tubuh kita sehat. Demikian pula saat kita merasa takut, iman kita lapar, membutuhkan makanan rohani, agar rohani kita sehat. Kita harus makan makanan rohani sebagai jalan penyelesaian. Namun jika kita salah menyelesaikannya, bukan dengan cara makan makanan rohani. Ini akan berakibat salah.
Aku menyertai engkau. Adalah merupakan jawaban atas ketakutan. Allah menjanjikan bahkan menegaskan berkali-kali bahwa Allah menyertai. Saat kita takut, kita ingat akan janji Tuhan Bahwa Allah menyertai. Ini adalah merupakan proses kehidupan iman. Sehingga iman kita bertumbuh saat ada rasa takut, kemudian muncul kesadaran Allah menyertai. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa rasa takut itu muncul terus. Saat ini kita takut, ada kesadaran Allah menyertai, takut itu hilang. Tetapi, sebentar lagi saat muncul pergumulan yang lain ketakutan itu datang lagi. Demikianlah terus menerus, hingga satu hari bisa berkali-kali, dan selama kita hidup rasa takut tidak pernah habis. Sebuah ilustrasi sederhana, yaitu apakah kita makan sekali untuk selamanya? Bukankah sebanyak-banyaknya kita makan, setelah beberapa jam lapar lagi? Demikianlah proses kehidupan iman. Saat berkat rohani masuk, rasa takut hilang. Namun beberapa saat rasa takut muncul lagi. Kita membutuhkan makanan rohani lagi. Demikian juga semakin sering kita takut, semakin banyak kita makan-makanan rohani.
Bersyukurlah kalau kita masih bisa merasa takut. Karena ada suatu panggilan Allah untuk segera menikmati makan makanan rohani. Marilah kita hadapi perasaan takut dengan cara yang benar, dan bukan dengan cara kita sendiri. Amin. Tuhan memberkati.
