Namamu melambung dalam sekejap mata
Bukan karena keindahan alammu yang mempesona
Namun karena amarahmu yang terus membara
Dan kekejamanmu yang membabi buta
JURANG DALAM
Kau torehkan garis hitam di atas langit
Hingga setiap hati kini harus menjerit
Sukhoi yang begitu indah kini morat-marit
Meninggalkan kenangan kelam yang pahit
JURANG DALAM
Sampai kapankah awan kelabu menyelimutimu
Kau ukir sejarah suram hingga anak cucu
Tetesan air mata akan senantiasa terlukis di wajahmu
Sajak-sajak pilupun selalu tertulis mengiringmu
Selamat jalan saudara-saudaraku
Jurang dalam kiranya hanyalah jembatan
Menuju istana baka bersama TUHANmu
(Sion, Pdt Agus Widjianto, MTh).
