Fajar merekah, kala malam beranjak pergi. Pelan-pelan kegelapan mulai terhapus, oleh indahnya senyum mentari. Diiringi nyanyian burung kenari, ku terjaga dari lelapnya mimpi-mimpi yang tak pasti. Bersama lambaian sejuknya embun yang membungkus pagi. Nampak bunga-bungapun mulai bersemi. Tarian kupu-kupu yang tak mau berhenti mengukir indahnya alam. “Selamat datang pagi” kataku dalam hati, menyambut indahnya anugrah Bapa Surgawi.
Seiring sang surya yang bersinar. Ku lihat sebuah pengharapan yang memancar. Sama seperti mentari yang menghangatkan bumi, demikianlah kasih ALLAH kepada seluruh bumi. Sama seperti ALLAH yang memberi indahnya pagi, demikianlah ALLAH kan memberkati. Sama seperti pagi yang datang dengan pasti. Demikianlah kasih ALLAH tiada henti. Tak kuragukan lagi, sama seperti ALLAH memberi hari yang indah, demikianlah kasih ALLAH kan berlimpah.
Kulihat senyum BAPA SURGAWI, nampak dalam mentari yang berseri. Tangan TUHANku menggenggam erat jantung hatiku, melalui angin yang berhembus membungkusku. Perhatian ALLAH-ku mengalir melalui orang-orang sekelilingku yang mengasihi. Bahkan kasih-NYA selalu menyertai dalam setiap langkah hidupku. Bimbingan-NYA selalu bergema dalam hatiku, hingga aku tak kan pernah tersesat sedikitpun. Terima kasih TUHAN-ku atas setiap anugrah yang KAU beri. Ajar aku senantiasa berserah kepada-MU. Amin.
(Gembala Sion).
Izin copas ya buat tugasku 🙂 ini dijadikan sebagai bahan referensi untuk saya :D.
Terima kasih ya. 🙂 omong-omoing, prosamu lumayan bagus 😀
ADMIN :
Silahkan, kami senang jika menjadi berkat. GBU