Pagi kelabu. Saat langkah-langkah TUHAN YESUS mulai nampak lemah lesu. Diiringi cambuk bertalu-talu. Menggores seluruh wajah dan bahu. Menyiratkan penderitaan yang penuh pilu. Dan kesakitan yang penuh sendu. Tetesan darah menjadi saksi bisu atas penganiayaan yang mengharu biru. Cercaan dan hinaan kian terdengar meyayat kalbu.
Pedih, perih, nafas seakan tertindih, rintihanpun terdengar lirih. Murid-muridpun mulai menyisih. Tak ada yang mengenal kasih.
Wajah-wajah nampak penuh kebencian, teriakan-teriakan terdengar penuh dendam. Disana-sini terdengar hujatan. Seakan-akan TUHAN YESUS layak menerima hukuman. Sebagai balasan atas perbuatan. Tak ada pertolongan. Tak ada belas kasihan. Hanya teriakan “salibkan !”
Tak ada yang mengerti. Semua mata telah memejamkan diri. Kegelapan telah menyelimuti setiap hati. Hingga murid-muridpun lebih baik melarikan diri. Dari pada mengorban diri.
Dua ribu tahun telah terlewati. Namun penyaliban TUHAN YESUS masih terus terjadi. Tak ada kasih sejati. Mereka saling mengkhianati. Saling membenci. Taka ada yang saling memberi. Menunggu janji TUHAN digenapi. Namun hidup mereka tidak tulus suci. Berbuat dosa setiap hari. Hingga kegelapanpun kian menyelimuti bumi.
Paskah adalah tanda. Agar setiap mata terbuka. Bahwa keselamatan masih tersedia. Bagi mereka yang percaya. TUHAN YESUS adalah Juru Selamat dunia.
(Gembala Sion)